Please download to get full document.

View again

of 33

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pernikahan

Indonesia, Nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan kekuatan hukum dan ajaran agama. 13 Sedangkan menurut Undang-Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan
0 views33 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
  8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.   Pernikahan  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan kekuatan hukum dan ajaran agama. 13  Sedangkan menurut Undang-Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 14 Perkawinan yang dalam istilah agama Islam disebu t “Nikah” ialah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan kentrentaman (mawaddah wa rahmah) dengan cara- cara yang diridahai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. 15   2.1.1. Aturan Perkawinan di Indonesia Pada hakikatnya, pernikahan merupakan suatu cara legal   baik secara agama maupun hukum bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk saling memberi dan menerima kebutuhan lahir dan batin dalam balutan kasih sayang. Adanya kepentingan dalam urusan tersebut maka dibutuhkan aturan-aturan yang mengatur keberlangsungannya.  9 Aturan perkawinan di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh adat setempat, tetapi juga dipengaruhi oleh ajaran Agama, seperti Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, serta Budha. Adanya beragam pengaruh dalam masyarakat tersebut mengakibatkan terjadinya banyak aturan yang mengatur masalah perkawinan. Perbedaan dalam cara melakukan  perkawinan sebagai pengaruh dari pengaturan perkawinan membawa konsekuensi pada cara hidup kekeluargaan, kekerabatan, dan kekayaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. 16  Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebabkan terjadinya unifikasi dalam bidang perkawinan  bagi seluruh warga negara Indonesia. Undang-Undang ini terdiri atas XIV BAB dan 67 Pasal yang membahas mengenai perkawinan. 15  Pembahasan Undang-Undang dimulai dari dasar perkawinan, syarat-syarat, hak & kewajiban dalam rumah tangga hingga ketentuan-ketentuan lainnya. Berdasarkan pembahasan dalam bab II mengenai syarat-syarat perkawinan terdapat putusan terkait usia menikah bagi calon mempelai laki-laki dan perempuan. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak  pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 (enam belas) tahun. 15 2.1.2. Faktor-Faktor Yang Mendukung Kualitas Pernikahan Setiap pasangan pernikahan tentu mendambakan terciptanya keharmonisan dan kebahagian dalam rumah tangga mereka. Hal ini tidak  10 dipungkuri bagi mereka yang belum menikah, merencanakan menikah atau sedang dalam hubungan pernikahan itu sendiri. Oleh karenanya, ada  beberapa hal yang dapat mendukung terciptanya pernikahan yang diimpikan antara lain: 1.   Peran Suami dan Peran Istri dalam Pemenuhan Kebutuhan Pernikahan Menurut Cox (dikutip Agustine D. dalam Kompas, 2 Agustus 2009), seyogianya tiga macam kebutuhan dapat terpenuhi melalui kehidupan perkawinan, yaitu: 17  -   Kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk mendapat cinta kasih, dukungan emosional, rasa aman, kebersamaan, dan  pemenuhan kebutuhan romantis. -   Kebutuhan seksual yang dalam masyarakat tertentu, termasuk Indonesia, hubungan seks hanya sah bila terikat dalam  perkawinan. -   Kebutuhan material, di mana nafkah dan pengelolaan rumah tangga merupakan hal penting untuk kelangsungan kehidupan  bagi yang terlibat dalam perkawinan tersebut. Terpenuhinya tiga macam kebutuhan tersebut (lahir, batin dan biologis) diperlukan usaha bersama antara suami istri. Seyogianya kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara seimbang karena ketiganya adalah syarat untuk mencapai kebahagiaan. Bila salah satu kebutuhan tersebut kurang terpenuhi maka dalam  11 kehidupan bersama suami istri dapat mengalami hambatan untuk mencapai kebahagiaan. Sebenarnya perkawinan baru dapat disebut  berhasil bila tidak hanya bertahan utuh dalam waktu lama, tetapi sekaligus memberikan kebahagiaan bagi semua anggota keluarga. Oleh sebab itu adalah suatu keharusan antara suami istri terjadi hubungan yang harmonis, saling mengerti, saling membantu, dan saling mendorong kesuksesan pasangannya. 17  2.   Pendidikan Agama yang sesuai dengan syari’at masing -masing Agama merupakan landasan seseorang dalam menjalani kehidupannya terlebih di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai ketuhanan. Bahkan hampir 85% penduduk Indonesia beragama Islam dan belum termasuk dengan jumlah penduduk beragama yang lain di Indonesia. Faktor religi seringkali menjadi konflik karena ketidaksiapan dan ketidakmampuan seseorang mengurus rumah tangga dan ketidaktahuan akan hak dan kewajiban seorang suami atau istri sebenarnya telah ditentukan agama. 18   2.1.3. Usia Menikah Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan pasal 7 tentang syarat-syarat perkawinan, telah disebutkan batasan usia menikah baik untuk calon mempelai laki-laki maupun calon mempelai wanita. Adanya pembatasan usia perkawinan ini bertujuan untuk menghindari perkawinan muda/  pernikahan dini di tengah masyarakat.  12 2.1.3.1. Menikah Muda Pada abad modern saat ini fenomena menikah usia muda mulai banyak dijumpai kembali di masyarakat. Hal ini didukung dengan alasan melihat keadaan pergaulan bebas sekarang ini yang sudah dianggap lumrah. Adanya anggapan aneh bagi yang tidak melakukannya sehingga terdapat sebagian remaja berpandangan menikah muda merupakan pilihan agar mereka terhindar dari  perbuatan dosa dan disatu sisi lainnya, sebagian justru terjerumus kedalam pergaulan bebas yang berujung pula pada menikah muda yang tidak diinginkan. 19   Para ahli, pandangan institusi dan landasan hukum memiliki  pandangan yang berbeda mengenai pengertian pernikahan muda itu sendiri seperti menurut WHO, Pernikahan dini atau kawin muda adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu  pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia dibawah 19 tahun. Sebagaimana di dalam UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974  pasal 7 yang menetapkam batas maksimum pernikahan di usia muda adalah perempuan umur 16 tahun dan laki-laki berusia 19 tahun itu  baru sudah boleh menikah. Sedangkan dari segi kesehatan, menurut BKKBN perkawinan usia muda itu sendiri yang ideal adalah untuk  perempuan di atas 20 tahun sudah boleh menikah. 20  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x