Please download to get full document.

View again

of 7

EDUKASI DAN PELATIHAN SIMULASI TANGGAP DARURAT BENCANA KEBAKARAN BAGI SANTRI DI BANYUWANGI

ABSTRAK Abstrak: Pondok pesantren Darussholah Singojuruh telah berusia puluhan tahun rentan terjadi kecelakaan atau keadaan darurat, misalkan kebakaran. Dengan banyaknya santri yang tinggal dan penggurus pesantren yang berjumlah 300 orang lebih, maka
2 views7 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
    132 Jurnal Masyarakat Mandiri (JMM) http://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm   Vol. 3, No. 2, Desember 2019, Hal. 132-138 e-ISSN   2614-5758 | p-ISSN 2598-8158 :  https://doi.org/10.31764/jmm.v3i2.1150  EDUKASI DAN PELATIHAN SIMULASI TANGGAP DARURAT BENCANA KEBAKARAN BAGI SANTRI DI BANYUWANGI Erna Suryani 1* , Wahyu Naris Wari 2 , Siska Aprilia H 3   1,2,3 Prodi Teknik Sipil, Politeknik Negeri Banyuwangi, Indonesia erna@poliwangi.ac.id 1 , naris@poliwangi.ac.id 3 , siska_aprilia3@poliwangi.ac.id 3   ABSTRAK   Abstrak   :   Pondok pesantren Darussholah Singojuruh telah berusia puluhan tahun rentan terjadi kecelakaan atau keadaan darurat, misalkan kebakaran. Dengan banyaknya santri yang tinggal dan penggurus pesantren yang berjumlah 300 orang lebih, maka perlu adanya penyiapan jika terjadi keadaan darurat. Keadaan Darurat didefinisikan sebagai keadaan sulit yang tidak diduga yang memerlukan penanganan segera supaya tidak terjadi kecelakaan/kefatalan. Dalam kegiatan edukasi dan simulasi tanggap darurat kebakaran ini akan dilakukan edukasi berupa pembekalan materi tentang hal-hal yang menyebabkan kebakaran, material-material yang mudah terbakar, dan bagaimana penanggulangan bahaya kebakaran jika terjadi. Setelah dilakukan edukasi mengenai kebakaran akan dilaksanakan simulasi tanggap darurat yang meliputi santri pondok pesantren sebagai peserta sehingga jika terjadi suasana tanggap darurat kebakaran akan mudah untuk mengatasi kondisi tersebut agar tidak menyebabkan kerusakan yang parah pada pondok pesantren apalagi sampai menimbulkan korban manusia. Dalam simulasi ini dilakukan pula pelatihan penggunaan APAR. Hal ini sebagai salah satu penerapan pada bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh. Sebelum diadakan kegiatan edukasi dan pelatihan ini santri tidak mengetahui bagaimana cara penangganan yang tepat jika terjadi kondisi darurat kebakaran, sehingga keberhasilan kegiatan ini dapat dikatakan 100% berhasil karena setelah kegiatan mereka mengetahui bagaimana menangani bahaya kebakaran termasuk penggunaan APAR. Kata Kunci: Tanggap Darurat; Kebakaran; K3; APAR. Abstract Darussholah Singojuruh Islamic boarding school is decades old prone to accidents or emergencies, for example fires. With the number of santri living and boarding school officials totaling more than 300 people, it is necessary to prepare in case of an emergency. Emergency is defined as an unexpectedly difficult situation that requires immediate treatment to prevent accidents / fatalities. In this educational activity and fire emergency response simulation, education will be conducted in the form of provisioning material on matters that cause fires, flammable materials, and how to deal with fire hazards if they occur. After conducting education about the fire, an emergency response simulation will be conducted which includes the students of the Islamic boarding school as participants so that if there is an emergency response situation, the fire will be easy to overcome these conditions so as not to cause severe damage to the boarding school especially to cause human casualties. In this simulation also conducted training on the use of APAR. This is as one of the applications in the field of Occupational Safety and Health (K3) in Darussholah Singojuruh Islamic Boarding School. Before the education and training activities were held, students did not know how to subscribe properly in the event of a fire emergency, so the success of this activity could be said to be 100% successful because after their activities they knew how to deal with fire hazards including the use of fire extinguisher. Keywords Emergency Response;Fire; K3; APAR.    133 Erna Suryani, Edukasi dan Pelatihan Simulasi... A.   LATAR   BELAKANG Keadaan darurat dapat terjadi kapanpun dan dimanapun tanpa terkecuali. Dengan adanya pemicu dan kondisi yang memungkinkan maka keadaan darurat dapat menyebabkan kerugian yang tidak sedikit (Siswanto, 2012), (Yuniar, Mahrur, & Sarwono, 2016). Di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh yang telah berusia puluhan tahun dapat mengalami kecelakaan atau keadaan darurat berupa kebakaran. Dengan banyaknya santri yang tinggal dan pengurus pesantren yang berjumlah ratusan orang lebih, maka perlu adanya persiapan jika terjadi keadaan darurat kebakaran sewaktu-waktu. Keadaan Darurat berupa kebakaran ini jika terjadi dapat menyebabkan kerugian yang besar jika tidak tertangani dengan tepat dan segera, karena sangat mungkin kerugian tidak hanya menyangkut secara materi namun juga dapat menimbulkan korban jiwa (Ayu et al., 2013), (Linuwih, 2015). Berdasarkan survey   yang telah dilakukan di lokasi, pengetahuan tentang penanggulangan kondisi darurat khususnya kebakaran belum dikuasai oleh khususnya para santri di pondok pesantren. Oleh karena itu pengetahuan tentang penanganan jika terjadi bahaya kebakaran pada Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi memerlukan perhatian, karena jika terjadi kebakaran kerugiannya bisa sangat besar. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilaksanakanlah kegiatan yang merupakan perwujudan dari program pengabdian masyarakat dengan judul Edukasi dan Pelatihan Simulasi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi ”. D alam kegiatan ini dilakukan edukasi dan simulasi jika terdapat keadaan darurat kebakaran yang terjadi di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Hal ini perlu sekali dilakukan mengingat banyaknya santri yang tinggal dan menuntut ilmu di tempat tersebut. B.   KAJIAN   PUSTAKA   Bangunan yang ada di Indonesia yang merupakan fasilitas bersama yang sebagian besar berupa bangunan bertingkat minimum lantai 2. Hal ini terkait dengan ketersediaan lahan. Bangunan bertingkat tinggi sangat merebak pembangunannya terutama di kawasan perkotaan, baik sebagai hunian, perkantoran, pusat perbelanjaan maupun tempat rekreasi. Bangunan bertingkat tinggi tentu memiliki jumlah penghuni ataupun pengguna yang tidak sedikit apalagi jika bangunan tersebut berfungsi pula sebagai ruang publik. Dengan demikian keselamatan para penggunanya tentu harus diutamakan dan tidak dapat diabaikan (Paiton, Ytl, Kristianingsih, & Proses, 2013), (Kowara, 2017). 1.   Keadaan Darurat Keadaan darurat merupakan suatu kondisi tidak normal yang mendadak, mengganggu kegiatan dan perlu segera ditangani (Ramli, 2010). Pada dasarnya keadaan darurat ini perlu dipersiapkan tentang bagaimana cara mengatasinya. Sistem manajemen tanggap darurat sangat berkaitan dengan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran di gedung. Salah satu sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran adalah sistem proteksi aktif  134   |   Jurnal Masyarakat Mandiri   (JMM)  V ol. 3, No. 2, Desember 2019, hal. 132-138   dan sistem proteksi pasif. Setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penyelamat diri yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan, sehingga apabila terjadi keadaan darurat kebakaran penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman (Suma’mur P.K, 2009) . Definisi Unit Tanggap Darurat ialah unit kerja yang dibentuk secara khusus untuk menanggulangi keadaaan darurat di tempat kerja. Unit kerja tersebut dibentuk dengan tujuan untuk memenuhi persyaratan OHSAS 18001:2007 klausul 4.4.7 Emergency Preparedness and Response   (Persiapan Tanggap Darurat). Bagian dari perencanaan untuk memenuhi klausul OHSAS 18001:2007 4.4.7. kondisi tersebut antara lain : a.   Kebakaran yang tidak mampu dipadamkan Regu Pemadam Kebakaran Perusahaan dalam waktu singkat. b.   Peledakan spontan pada peralatan listrik. c.   Kebocoran gas/cairan/bahan material berbahaya lainnya dalam skala besar dan tidak bisa diatasi dalam waktu singkat. d.   Bencana alam di lingkungan Perusahaan (Gempa Bumi, Angin Ribu, dsb). e.   Terorisme (Ancaman Bom, Perampokan, dan sebagainya). f.   Demonstrasi/Unjuk Rasa/Huru-hara di dalam/di luar lingkungan Perusahaan. g.   Kecelakaan / Keracunan Massal. 2.   Kebakaran  Menurut Peraturan Menteri Nomor 04/MEN/1980 kebakaran diklasifikasikan menjadi 4, yaitu kategori A,B,C,D. dimana katagori A adalah kebakaran benda benda padat kecuali logam, contohnya kayu, kertas dan plastik. Kategori B adalah kebakaran benda bahan bakar cair atau gas, contohnya kerosene, bensin, LPG dan minyak. Kategori C adalah kebakaran suatu instalasi listrik, contohnya breaker listrik, peralatan alat elektronik. Kategori D adalah kebakaran pada benda-benda logam, seperti magnesium, alumunium, natrium. Sedangkan menurut NFPA kebakaran diklasifikasikan menjadi 6, yaitu A,B,C,D,E dan K. Pengertian kebakaran  A,B,C,D sama seperti pada PERMEN no.04/MEN/1980. Kategori E,yaitu kebakaran yang disebabkan oleh suatu bahan-bahan radioaktif. Kebakaran kategori K adalah kebakaran yang disebabkan bahan akibat konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran ini banyak terjadi di dapur. Api yang timbul di dapur dapat dikategorikan pada api kelas B. Melihat bahaya yang dapat terjadi akibat bahaya kebakaran ini, standar operasional prosedur (SOP) tentang penanggulangan darurat kebakaran diberikan untuk memenuhi peraturan dari Kepmenaker No. 186 tahun 1999. C.   METODE   PELAKSANAAN Lokasi kegiatan ini berada di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi, dimana pondok pesantren ini merupakan salah satu tempat pendidikan agama Islam yang mana peserta didiknya tinggal di Pondok Pesantren Tersebut. Berdirinya Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh,adalah merupakan bagian dari kisah nyata yang diilhami dari tokoh Ulama’ Besar di Banyuwangi KH.  135 Erna Suryani, Edukasi dan Pelatihan Simulasi... Mukhtar Syafa’at Abdul Ghofur Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung. Pada tanggal 17 April 1988 M Pondok Pesantren Darussholah di dirikan. Dengan berjalannya waktu Pondok Pesantren Darussholah mengalami perkembangan dengan bertambahnya jumlah santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Kemudian pada tanggal tersebut pula didirikan Yayasan dengan nama “Yayasan Darussholah” yang menjadi naungan dari segala aktifitas di Pondok Pesantren. Pada tanggal 22 Juni 2003 diresmikan berdirinya SMA Negeri Darussholah Singojuruh yang berlokasi di samping Pondok Pesantren. Dengan berdirinya SMA Negeri Darussholah Singojuruh ini memenuhi kebutuhan akan pendidikan formal khususnya di masyarakat Singojuruh pada tingkat menengah atas. Peserta dari kegiatan ini adalah para santri yang tinggal di pondok pesantren yang berjumlah 300 orang lebih. Dalam pelaksanaan kegiatan “ Edukasi Dan Pelatihan Simulasi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi “ ini dilakukan beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1.   Survey Lokasi Pondok Pesantren Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar potensi bahaya kebakaran yang dapat terjadi di lapangan, agar kegiatan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Selain itu dalam kegiatan ini dilakukan wawancara dengan pengurus pondok pesantren tentang pengetahuan pengurus pondok pesantren khususnya jika terjadi bahaya kebakaran. 2.   Edukasi Tentang Bahaya Kebakaran Dalam edukasi ini diberikan materi kepada para peserta yang merupakan penghuni Pondok Pesantren tentang hal-hal yang menyebabkan kebakaran, material-material yang mudah terbakar, dan bagaimana penanggulangan bahaya kebakaran jika terjadi khususnya di pondok pesantren. Peserta dalam kegiatan ini selain santri dari pondok pesantren  juga pengurus pondok pesantren itu sendiri. Sehingga jika terjadi bahaya kebakaran para penghuni baik santri maupun pengurus bias tenang dalam menghadapi kebakaran, tidak malah panik atau binggung mau melakukan apa ketika bahaya terjadi. 3.   Pelatihan Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran Dalam simulasi ini dilakukan pelatihan penggunaan Alat Pemadam  Api Ringan (APAR). Sehingga jika ada kebakaran kecil tidak sampai menyebabkan kerusakan yang besar bagi penghuni pondok pesantren. D.   HASIL   DAN   PEMBAHASAN Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat telah dilaksanakan dengan berbagai bentuk kegiatan berupa sosialisasi dan simulasi tanggap darurat terhadap bahaya kebakaran khususnya di Pondok Pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Adapun keluaran yang dicapai ( output  ) adalah sebagai berikut: 1.   Survei Lokasi Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan sebelumnya, diperoleh beberapa permasalahan yang dihadapi oleh mitra seperti yang telah dipaparkan dalam latar belakang. Dari berbagai permasalahan yang ada,  136   |   Jurnal Masyarakat Mandiri   (JMM)  V ol. 3, No. 2, Desember 2019, hal. 132-138   solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan cara mengadakan pemberian edukasi berupa sosialisasi dan simulasi terhadap santri dan pengurus pondok pesantren Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Pada tahap ini dilakukan perizinan dan sekaligus survei lokasi di Pondok Pesantren pada tanggal 16 September 2019. Pengusul melakukan survei lokasi di lokasi pondok pesantren putra dan putri. Pusat kegiatan keagamaan, kegiatan formal maupun kegiatan non formal dilakukan disekitar masjid pondok pesantren Darussholah. 2.   Pemberian Edukasi Sosialisasi) mengenai Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Kegiatan sosialisasi atau pemberian edukasi berupa tanggap darurat kebakaran dilakukan pada tanggal 21 September 2019 pukul 08.30 sampai 11.00 WIB di Pondok Pesantren Putri Darussholah Singojuruh. Peserta sosialisasi sebanyak 50 santri putri.. Narasumber sosialisasi adalah Ibu Erna Suryani selaku ketua tim PKM. Kegiatan edukasi ini seperti terlihat pada Gambar 1 berikut. Gambar 1. Sosialisasi Tanggap Darurat terhadap Kebakaran Kegiatan edukasi atau sosialisasi ini dilakukan dengan memberikan pembekalan materi tentang hal-hal yang menyebabkan kebakaran, material-material yang mudah terbakar, dan bagaimana penanggulangan bahaya kebakaran jika terjadi. Setelah pemberian materi selesai, narasumber menunjukkan berbagai alat-alat yang dibutuhkan dalam menghadapi bahaya kebakaran serta memberikan contoh penggunaan alat-alat tersebut. 3.   Pelatihan Berupa Simulasi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Setelah dilakukan edukasi mengenai hal-hal yang menyebabkan kebakaran, material-material yang mudah terbakar, dan bagaimana penanggulangan bahaya kebakaran jika terjadi selanjutnya dilaksanakan simulasi tanggap darurat kebakaran pada tanggal 22 September 2019 yang meliputi 60 santri pondok pesantren dan pengurus sebagai peserta sehingga  jika terjadi suasana tanggap darurat kebakaran akan mudah untuk mengatasi kondisi tersebut agar tidak menyebabkan kerusakan yang parah pada pondok pesantren apalagi sampai menimbulkan korban manusia.
Advertisement
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x