Please download to get full document.

View again

of 25

PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR

Abstrak Praktik pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur telah menimbulkan erosi terhadap fungsi keluarga itu sendiri, seperti fungsi reproduksi, pendidikan, perlindungan, ekonomi, dan afeksi. Bahkan hal tersebut telah mengubah makna sakralitas
0 views25 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
    Volume 6, Nomor 2, Desember 2017 Print ISSN 2337-3741 Online ISSN 2579-5287   185   PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR:   Studi Kasus terhadap Praktik Pernikahan di Kota Mataram H.    A  HSANUL HALIK Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB 2017  –   Sekarang. Email : ahsanulkhalikalhaq70@gmail.com  Abstrak Praktik pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur telah menimbulkan erosi terhadap fungsi keluarga itu sendiri, seperti fungsi reproduksi, pendidikan, perlindungan, ekonomi, dan afeksi. Bahkan hal tersebut telah mengubah makna sakralitas dari pernikahan, di mana hal tersebut mengakibatkan mudahnya terjadi kawin-cerai, yang pada akhirnya berdampak juga pada masa depan anak-anak; korban dari tindakan kawin-cerai tersebut. Artikel ini merupakan hasil penelitian penelitian lapangan yang mengkaji fenomena pernikahan di bawah umur di Kota Mataram dengan pendekatan sosiologis-filosofis.  Temuan artikel ini menunjukkan bahwa tingginya praktik pernikahan bawah umur di Kota Mataram dilatarbelakangi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi tingkat pemahaman pelaku pernikahan bawah umur, dan kondisi lingkungan keluarga di mana pelaku pernikahan bawah umur tinggal. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor ekonomi, agama, sosial, dan budaya. Adapun dampak pernikahan bawah umur bagi kehidupan masyarakat muslim di Kota Mataram meliputi aspek agama, sosial kemasyarakatan, ekonomi, dan kehidupan dalam rumah tangga. Kata Kunci:  Pernikahan dini, pernikahan di bawah umur, kawin-cerai, ushul fikih, filsafat hukum Islam, Kota Mataram.  Abstract  Early marriage practice or underage marriage has eroded the roles of family per se, such as its reproductive, educative, protective, economic and affective roles. Such a practice even devalues the sacred meaning inherent in the marriage in that it promotes divorces, which eventually harms children‟s future  .  Anchored in the sociological-philosophical approach, this article reports findings pertinent to the  phenomena of child marriage in the city of Mataram. The empirical findings showed that the  prevalence of child marriage in the capital city was caused by both internal and external factors. The  former included the level of understanding of the brides and grooms committing the child marriage; and their familial conditions where both parties live. The external factors entailed the factors, such as economy, religion, and socio-culture. This study also unveiled that the child marriage had adverse impacts on the Muslim community in the capital city, which included the religion, socio-community, economy and their familial lives.  Keywords  : child marriage, early marriage, divorce, ushul fikih, philosphy of Islamic law, Mataram city.    H. Ahsanul Halik,   P  ernikahan di Bawah Umur…   186  |   Schemata,  Volume 6, Nomor 2, Desember 2017   Pendahuluan Pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini sangat populer di kalangan masyarakat muslim, termasuk di Indonesia khususnya Lombok Nusa Tenggara Barat. Tidak hanya populer, istilah tersebut bahkan menjadi suatu praktik yang sangat mapan di tengah kehidupan masyarakat muslim, baik di kota maupun di desa. Bagi seseorang yang sudah masuk usia balig acap kali diopinikan sebagai masa atau priode dewasa yang sudah layak untuk melaksanakan suatu hukum, termasuk pernikahan. Alih-alih mendapatkan pahala sebagai konsekuensi dari pernikahannya sekalipun dilakukan di usia dini. Pernikahan di bawah umur dipahami sebagai praktek pernikahan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua mempelai yang tidak sesuai dengan usia nikah, baik secara agama maupun peraturan perundang-undangan. Secara agama misalnya, banyak alasan yang dikemukakan oleh sebagian umat Islam yang melakukan pernikahan di bawah umur, salah satunya antara lain adalah dengan merujuk pada pernikahan Nabi Muhammad saw. Dengan Siti Aisyah yang populer dicatat sejarah ketika berusia sembilan tahun. Dari sinilah kemudian nikah di bawah umur menjadi sebuah tradisi dan berkembang luas sampai saat ini. 1  Berbeda dengan perspektif agama, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tampaknya membatasi batas minimum umur pihak yang hendak melangsungkan pernikahan. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Perkawinan mensyaratkan batas minimum umur calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 (sembilan belas) tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 (enam belas) tahun. 2  Batasan usia perkawinan yang ditetapkan oleh Undang-Undang Perkawinan sebagaimana dijelaskan di atas lebih tinggi jika dibandingkan dengan ketentuan yang ada di dalam agama yang hanya membatasi dengan usia balig. Pembatasan usia minimum oleh Undang-Undang Perkawinan ini nampaknya memberikan kesan bahwa prinsip dalam perkawinan adalah calon suami dan isteri harus telah matang jiwa dan raganya, sehingga terbentuk keluarga yang berkualitas, kekal dan sejahtera. Pembatasan usia perkawinan oleh Undang- Undang Perkawinan ini sekaligus meng-antitesa praktik pernikahan di bawah umur yang dapat membawa efek yang kurang baik. Namun faktanya, hingga saat ini istilah pernikahan di Indonesia, tidak terkecuali di Kota Mataram, masih dipahami dalam bingkai yang teramat sempit. 1  Masnun Tahir, “ Nikah Dini dalam Tinjauan Fiqih Indonesia (Mengurai Persoalan, Memberi Solus i)”,  dalam Jurnal  Qauwam “J  ournal For Gender Mainstreami  ng”  , Vol. 5. No. 2 (Mataram: PSW IAIN Mataram, 2011), 5. 2  Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.  H. Ahsanul Halik,   P  ernikahan di Bawah Umur…   Schemata,  Volume 6, Nomor 2, Desember 2017 | 187   Lebih-lebih pasca dicetuskannya tanda-tanda dewasa oleh jumhur ahli hukum Islam yang menetapkan tanda-tanda berupa ihtila>m (mimpi) bagi laki-laki dan haid bagi perempuan sebagai tolak ukur kedewasaan, 3  apabila tanda-tanda tersebut tidak muncul pada saatnya, maka kedewasaan ditandai dengan umur, yaitu 15 tahun. 4  Kosekuwensi dari kedewasaan tersebut adalah seseorang sudah dianggap mampu untuk menerima dan melakukan perbuatan hukum.Orang yang sudah layak dan cakap untuk menerima dan melakukan perbuatan hukum maka hal tersebut dalam hukum Islam disebut dengan istilah al-ahli> yah. 5  Di era modern saat ini, dengan segala permasalahan yang begitu kompleks, menjadi lahan subur bagi praktik nikah dibawah umur. Di kota Mataram, sampai saat ini praktik nikah dibawah umur semakin meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementrian Agama Kota Mataram dapat diketahui bahwa tingkat praktik dibawah umur sangat tinggi. dilihat dari jumlah praktik dibawah umur pada tahun 2015 di Kota Mataram sudah mencapai 57 % dan pernikahan tersebut dilakukan di bawah tangan (  sirri   ). 6  Selain itu, dari perkara pernikahan dibawah umur yang terjadi di Kota Mataram, justru janda-janda yang tergolong sebagai penduduk miskin adalah akibat dari pernikahan dini. Berdasarkan data yang diperoleh dari terkait yakni Dinas Sosial,  Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Mataram, pada tahun 2015 janda yang 3  Dasar penetepan usia dewasa dengan tanda-tanda fisik berupa ih}tila>m dan haid adalah al-Qur`a>n dan HadisNabi SAW. Berdasarkan Surat (24): 56 Allah berfirman: “ Dan apabila anak- anakmu telah mencapai balig dengan ih}tila>m, hendaklah mereka minta izin ... ”.  kemudian berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Aisyah RA., “ Dari `  Aisyah RA, dari Nabi SAW (diriwayatkan bahwa) ia bersabda; dihapus tanggung jawab dari tiga orang: dari anak sampai ia mengalami ih}tila   >m”.   Musnad  Ahmad ibn Hambal (Mesir: Mu`assasah Qurtubah, t.t.), VI: 101, hadis nomor 24747. Selain itu, terdapat juga hadis yang diriwayatkan oleh At}- T{abra>ni> yang menegaskan bahwa tidak sah shalat seorang wanita yang sudah haid tanpa mukenah.HadisRiwayat at}-T{abra>ni>, al-Mujam al-Ausat}   4  Al-Mawardi,  Al-H{a>wi> al-Kabi>r (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), VIII: 47. Di samping itu, terdapat juga dasar penentuan kedewasaan dengan usia yaitu hadis dari Ibn Umar (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW memeriksa saya pada waktu perang uhud dan ketika itu saya berusia 14 tahun, lalu beliau tidak mengizinkan saya ikut berperang. Ketika perang khandaq dan saya berusia 15 tahun beliau membolehkan saya ikut berperang. Hadis riwayat al- Baiha>qi>,  As-Sunan al-Kubra (Beirut: Da>r al-Kutub al-`Ilmiyyah. 1991), VI: 54, hadis nomor 11079.  5  Dalam terminologi fiqh, kecakapan hukum (  al-ahliyyah   ) didefinisikan sebagai kelayakan seseorang untuk menerima hukum dan bertindak hukum. Az-Zuhaili> mendefiniskan al-ahliyyah   sebagai "kelayakan seseorang untuk menerima hak dan kewajiban dan untuk diakui tindakan- tindakannya secara hukum syariah. Lihat Wahbah Az-Zuhaili>, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Cetakan ke-8 (Damaskus: Da>r al-Fikr, 2005), hlm. 116. Selain az-Zuhaili>, Abu> Zahrah mendefinisikan al-ahliyyah sebagai kelayakan, kepantasan atau kecakapan manusia untuk ditetapkan kepadanya hak-hak orang lain (  ilza>m   ) dan untuk ditetapkan kepadanya hak-hak terhadap orang lain (  iltiza>m   ). Lihat Muh}ammad Abu> Zahrah, Us}u>l al-Fiqh (ttp.: Da>r al- Fikr al-`Azali, t.t.), 329. 6  Data dari Kementrian Agama Kota Mataram 2015-2016.   H. Ahsanul Halik,   P  ernikahan di Bawah Umur…   188  |   Schemata,  Volume 6, Nomor 2, Desember 2017   tergolong miskin sebagai akibat dari pernikahan di bawah umur sudah mencapai 32.5 %. 7  Selain itu, berdasarkan data dari Pengadilan Agama Kota Mataram bahwa permohonan isbat nikah sebagai akibat dari nikah sirri pada tahun 2015 masih terlihat sangat tinggi yaitu sejumlah 1293 (seribu dua ratus sembilan puluh tiga) kasus, dan pada tahun 2016 terdapat permohonan isbat nikah dari bulan januari sampai dengan september sejumlah 574 (lima ratus tujuh puluh empat) kasus, di mana pada bulan Januari jumlah pemohon isbat nikah berjumlah 41 (empat puluh satu), bulan Februari berjumlah 27 (dua puluh tujuh) kasus, bulan Maret berjumlah 85 (delapan puluh lima) kasus, bulan April berjumlah 134 (seratus tiga puluh empat) kasus, bulan Mei berjumlah 119 (seratus Sembilan belas) kasus, bulan Juni dan Juli berjumlah 13 (tiga belas) kasus, bulan Agustus berjumlah 120 (seratus dua puluh) kasus, dan pada bulan September berjumlah 22 (dua puluh dua) kasus. Walaupun pada tahun 2016 permohonan isbat nikah di kota mataram cenderung menurun 56 % dibandingkan dengan tahun 2015 namun masih tergolong masih tinggi. Selain itu, pada tahun 2016 ini, Pengadilan Agama Kota Mataram sudah menerima dan menetapkan 6 (enam) kasus permohonan dispensasi nikah di mana pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2015 terdapat 7 (tujuh) kasus permohonan dispensasi nikah yang diterima dan ditetapkan oleh Pengadilan Agama Mataram. 8   Jika dibandingkan pemohon isbat nikah di Pengadilan Agama Mataram pada tahun 2015 dan tahun 2016 terjadi penurunan 14 %. Namun, penurunan tersebut tidak signifikan.  Artinya, jumlah pemohon isbat nikah masih tergolong tinggi. Fenomena tingginya tingkat pernikahan di bawah umur pasangan muslim di Kota Mataram merupakan masalah sosial yang menarik untuk diteliti. Dengan tingginya tingkat pernikahan di bawah umur dalam suatu masyarakat akan menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan anak terutama terkait dengan pemenuhan hak-hak anak, di samping itu juga terjadi pengaruh terhadap kehidupan rumah tangga terutama terkait pelaksanaan hak dan kewajiban suami isteri. Dalam realitasnya, pasangan muslim yang melaksanakan nikah dini cenderung ekonominya belum mapan, mental dan pola fikirnya belum matang, hal tersebut tentu mengancam kelangsungan rumah tangga mereka. Oleh sebab itu, tingginya tingkat perkawinan di bawah umur bagi pasangan muslim di kota Mataram menimbulkan masalah sosial yang harus dihadapi dan hal tersebut memerlukan solusi. Sebab, tingginya tingkat perkawinan dibawah umur tersebut telah menimbulkan erosi terhadap fungsi keluarga itu sendiri, seperti 7  Sumber Data dari Dinas Sosial Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Mataram 2016. 8  Data dari Pengadilan Agama Kota Mataram 2015-2016.  H. Ahsanul Halik,   P  ernikahan di Bawah Umur…   Schemata,  Volume 6, Nomor 2, Desember 2017 | 189   fungsi reproduksi, pendidikan, pelindung, ekonomi, dan afeksi yang tetu saja akan berakibat luas pada kondisi sosial masyarakat kota Matataram. Selain itu, tingginya tingkat perkawinan di bawah umur juga akan mengakibatkan perubahan nilai-nilai dan norma-norma mengenai perkawinan, seperti perkawinan dini merupakan hal yang lazim dilakukan, sehingga mutu dan kualitas keluarga tidak lagi menjadi prioritas di mata masyarakat, dan status janda atau duda sebagai dampak dari perceraian karena pernikahan dibawah umur relatif tidak lagi mempunyai steretip negatif di mata masyarakat. Dalam konteks seperti ini, masa depan anak-anak yang orang tuanya bercerai karena nikah d dibawah umur tentu akan menjadi beban masyarakat dan sekaligus menunjukkan generasi yang lemah, untuk tidak menyebutnya sebagai lost generation.  Dalam perspektif hukum Islam, salah satu permasalahan yang timbul dari maraknya praktik pernikahan di bawah umur di Kota Mataram adalah kemungkinan para suami atau istri melalaikan kewajibannya untuk mewujudkan pernikahan yang ideal sesuai dengan tuntunan hukum Islam. Di tengah kondisi seperti ini, tampaknya para akademisi hukum Islam kelihatan seperti ragu-ragu dan tidak begitu serius dalam mengambil langkah untuk menyelesaikan kasus nikah dini sebagaimana disinggung di atas. Bila hukum Islam tidak menempatkan diri di tengah maraknya pernikahan di bawah umur di Kota Mataram, maka dikhawatirkan akan timbul kesan bahwa hukum Islam tidak mampu menghadapi dan menjawab permasalahan riil dalam kehidupan masyarakat. Hukum Islam dengan segala prinsipnya semestinya mengambil bagian untuk melakukan upaya koreksi terhadap praktik pernikahan dibawah umur yang begitu amat tinggi di Kota Mataram. Sebab, upaya tersebut berusaha menujukkan vitalitas hukum Islam dalam menghadapi kehidupan kontemporer. Hal ini disebabkan karena hukum Islam di zaman modern sekarang memiliki arti penting dalam kehidupan setiap muslim. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka artikel ini secara khsusus membahas temuan peneliti terkait dengan fenomena atau praktik pernikahan dibawah umur yang terjadi di Kota Mataram berdasarkan pada kajian sosiologis-filosofis.    Alasan Terjadinya Pernikahan di bawah Umur di Kota Mataram Praktik pernikahan di bawah umur oleh masyarakat muslim Kota Mataram sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, sebenarnya disebabkan oleh berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Sebagaimana dijelaskan di atas, faktor yang melatarbelakangi praktik pernikahan di bawah umur oleh masyarakat muslim Kota Mataram meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Dimana faktor internal terdiri
Advertisement
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x