Please download to get full document.

View again

of 3

Resensi Buku Fiqh Kebangsaan.docx

Tulisan ini ialah resensi sebuah buku berjudul Fiqh Kebangsaan. Buku yang lahir dari Himpunan alumni santri Lirboyo (HIMASAL). Keberadaan buku ini sangat membahagiakan lantaran ia mendasarkan semua argumentasi otoritatif menyoal tentang Keindonesiaan
4 views3 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
  Pesantren: Gudang Solusi Yang Tak Pernah Absen (Sebuah Resensi Atas Buku “Fiqh Kebangsaan Merajut Kebersamaan Di Tengah Kebhinnekaan”)   Judul buku: Fiqh Kebangsaan Merajut Kebersamaan Di Tengah Kebhinnekaan  Penulis: Tim Bahtsul Masail HIMASAL Editor: Ahmad Muntaha AM Pengantar: KH. Maimun Zubair Penerbit: Lirboyo Press & LTN Himasal Pusat Cetakan: Pertama, Pebruari 2018 Tebal: xvi + 100 halaman ISBN: 978-602-1207-99-0 Entitas pesantren merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki irisan sejarah panjang dengan sejarah bangsa Indonesia. Bahkan usia pesantren bisa dikatakan lebih sepuh ketimbang usai bangsa ini, jika yang dimaksud ialah usia kemerdekaannya. Dimana hampir setiap pergolakan bangsa, kaum pesantren selalu ikut terlibat di dalamnya. Kita bisa dengan mudah menjumput banyak sekali contoh keterlibatan komunitas pesantren terhadap dinamika  bangsa ini. Pada fase pra kemerdekaan, kita bisa menyebut gerakan-gerakan keagamaan- pesantren semisal Taswirul Afkar   yang diinisiasi oleh Mbah Wahab Hasbullah dengan misi mendidik serta mencerdaskan generasi di zaman tersebut. Belum lagi gerakan keamanan yang lahir dari rahim pesantren di bawah panji Hizbullah dan Sabilillah. Gerakan ekonomi kerakyatan dalam wadah  Nahdlatul Tujjar,  juga menjadi salah satu gerakan yang muncul dari kalangan pesantren. Sedangkan fase pasca kemerdekaan, kaum pesantren juga sangat aktif terlibat dalam misi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya melalui Fatwa Resolusi Jihad yang menggaung dari Hadratus Syaikh Hasyim Asyari. Lantas fatwa itulah yang menjadi dasar kemantapan bagi santri dan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam pertempuran heroik di Surabaya. Sehingga kita mengenal adagium populer hingga saat ini, yaitu  Hubbul Wathan min al Iman. Sebuah komitmen kelas tinggi yang diusung kaum pesantren untuk meletakkan semangat patriotisme di tempat yang “sakral”  nyaris mendekati maqam  keimanan. Dari sini kita bisa memaknai bahwasanya, denyut nadi pesantren selalu ikut di dalam tiap tarikan nafas bangsa ini. Oleh karenanya, dalam tiap problematika kebangsaan, entitas pesantren tak pernah absen dari keterlibatannya dalam mengartikulasikan solusi-solusinya. Tak terkecuali dalam hal membendung narasi gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama untuk menganulir dasar dan ideologi NKRI. Seperti yang kita ketahui, ada sekelompok ummat muslim yang begitu getol menyuarakan hendak mengganti dasar negara Pancasila dengan sistem khilafah di bumi  pertiwi ini. Mereka berargumen bahwa sistem yang dimaksud telah digariskan oleh Islam. Maka sesiapa yang mengaku muslim tapi tak mengikuti ajaran tersebut maka ia dianggap muslim yang tak kaffah . Muslim yang belum paripurna. Muslim yang patut dipertanyakan kualitas keimanannya.   Narasi-narasi tersebut mereka bumbui dengan menyitir ayat maupun hadis. Namun apakah nash-nash tersebut memiliki kekuatan yang “ tak terbantahkan ”  untuk mendukung gagasan mereka tersebut? Pada titik inilah keberadaan buku “ Fiqh Kebangsaan Merajut Kebersamaan Di Tengah Kebhinnekaan ” menemukan urgensinya. Ia seakan hadir sebagai pelita dalam gelapnya kesalah pahaman atas isu-isu khilafah tersebut. Buku yang diinisiasi oleh HIMASAL, Himpunan Alumni Santri Lirboyo tersebut menjawab atas pelbagai kekeliruan dan penyimpangan interpretasi yang dilakukan oleh mereka yang hendak mendirikan khilafah. Buku tersebut hadir bukan serba tiba-tiba maupun asal jadi. Sama sekali tidak. Buku tersebut lahir melalui proses yang tidak sederhana, ia lahir dari  pergulatan pemikiran yang panjang di majlis-majlis musyawarah -- atau dalam istilah  pesantren -- disebut dengan bahtsul masail. Di mana sebuah permasalahan dibahas secara intensif untuk diketemukan jawabannya dengan merujuk dalil-dalil primer-otoritatif, dari segenap epistemologis para ulama-ulama klasik yang qualified. KH. Maimun Zubair selaku penasehat HIMASAL dalam sambutannya menyebutkan: “Masa sekarang sudah tidak ada khilafah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nas ional.”  (hlm iv). Secar jelas dan lugas Mbah Maimun berargumen bahwa Islam telah berkembang di segenap penjuru dunia. Oleh karenanya, di zaman begini rupa, agenda mendirikan khilafah sudah tidak menemukan relevansinya. Sekarang ialah era  Nation State. Era dimana dunia terbagi menjadi kumpulan negara-negara yang berdaulat. Sebuah hal yang bertolak belakang dengan gagasan Khilafah yang mencoba menihilkan sekat negara. Dalam gambaran mereka, semua negara muslim membentuk sebuah kepemimpinan tunggal yang dipimpin oleh seorang khalifah, tidak ada batas negara, tiada aneka macam bendera, yang ada ialah daulah  Islamiyah yang hanya memiliki satu “bendera”.  Sungguh tak masuk di akal. Irasional. Lebih lanjut, buku ini juga menangkis argumen yang menyatakan bahwa khilafah ialah ajaran Islam. Mengutip kitab  Al’ alaqah bain ad Din wa al Wathan, karya Al Afyuni: tidak ada satu  pun nash    sharih yang mengatur bentuk negara. Sebab pembentukan negara merupakan  persoalan  siyasah yang teknisnya disesuaikan dengan kondisi, sekira lebih mendekatkan pada kemaslahatan dan menjauhkan dari kemadharatan. Al Qur’an pun tidak mengatur tentang  bentuk negara, yang disinggung Al Qur’an hanyalah catatan terhadap baik buru knya perilaku  para penguasa secara personal. (hlm 17-18). Dalam teks-teks hadis pun hanya menyebut tentang kedisiplinan pemimpin dan tata hubungan sosialnya. Semua ini semakin menegaskan  bahwa bentuk negara dan sistemnya merupakan bagian  siyasah  bukan bagian dari aqidah. Dimana juklak dan juknisnya dapat beragam dan hal ini termasuk dalam wilayah ijtihadi. Tidak ada kemutlakan atasnya. Hal berikutnya yang hendak dijawab oleh buku ini ialah pertanyaan tentang mengapa tidak menerapkan syariat secara kaffah. Padahal kalau kita cermati, justru pertanyaan itulah yang kurang tepat. Mengapa? Sebab ketidakmungkinan menerapkan beberapa hukum seperti qishash, rajam dan semisalnya, pada hakikatnya termasuk bagian dari penerapan syariat secara kaffah. Seperti jika orang tidak mampu shalat berdiri, maka syariat yang berlaku atasnya ialah salat dengan duduk. Tidak perlu memaksakan berdiri. Kenapa tidak mungkin menerapkan qishash? Sebab bangsa Indonesia bukan terdiri dari muslim semata melainkan  majemuk. Tentu pemberlakuan qishash secara umum akan mencederai keadilan bagi rakyat yang plural. Dan jika dipaksakan justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka hukum menerapkannya juga haram. (hlm 32). Buku ini juga tidak ketinggalan mengulas tentang hubungan Pancasila dan Islam. Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan, seperti: 1) Menghormati perbedaan keyakinan, 2) Bersikap netral di antara para pemeluk agama berbeda, 3) Menjaga hak-hak kemanusiaan, 3) Menjaga hak perbedaan pendapat, dan 5) Menjaga hak dan kewajiban sesuai undang-undang yang telah disepakati. (hlm 27). Mempertahankan NKRI sejatinya mempertahankan eksistensi Islam. Sebab dalam konteks keindonesiaan, agama bisa tegak manakala rakyatnya bersatu damai. Tidak mungkin bersatu damai tanpa memegang teguh prinsip dasar negara yang telah disepakati seluruh warga Indonesia dengan segala kemajemukannya. (hlm 19). Sejatinya kita semua berada dalam sebuah kontrak tidak tertulis yaitu mu’ahad wathaniyah (konsensus bangsa). Para  founding  father yang terdiri dari para negarawan dan ulama kita sejak dahulu kala telah memiliki kebijaksanaan yang luar biasa dengan memilih dan menjadikan sebuah dasar yang bisa mempersatukan semua elemen bangsa dan negara meski memiliki latar belakang primordial yang berbeda. Sebuah dasar yang bisa diterima oleh semuanya, yang memungkinkan kita semua untuk hidup bersama serta membangun bangsa ini menuju ke arah yang makin baik secara bersama-sama. Fondasi yang menyatukan kita itulah Pancasila. Oleh karenanya, menjaga eksistensi Pancasila menjadi kewajiban segenap anak bangsa. Sebaliknya, bagi siapa saja yang hendak mengganggu dasar negara sudah pasti akan berhadapan dengan kita semua. Pada akhirnya, kian jelas bagi kita. Sesungguhnya kalangan pesantren yang sering dibekap  persepsi sebagai barisan tradisional-kolotable yang jauh dari kemodern-an nyatanya memiliki  pemikiran yang jernih dan progresif. Justru dengan berbekal metode-metode klasik-tradisional ternyata komunitas pesantren mampu menjawab segala problematika ummat kekinian secara inklusif dan kontekstual. Hal yang justru tidak ditemukan pada mereka yang mendaku memiliki pemikiran yang “maju” dan modernis. Lihat saja misalnya, pandangan  banyak profesor dan mahasiswa di kampus-kampus. Pikiran mereka sangat eksklusif dan tekstual. Pada akhirnya, buku tipis ini mengandung muatan yang ultra tebal. Hampir tidak ada fatwa yang tanpa dasar-dalil di dalamnya. Sebab tulisan dalam buku ini ialah hasil dari pergulatan dialektika khas pesantren, yang selalu mengetengahkan rujukan yang qualified   dan otoritatif. Maka dengan bekal buku ini, pembaca sebetulnya diajak untuk menyusuri belantara kitab klasik, menapaki jejak pemikiran sarjana-sarjan muslim yang pilih tanding. Oleh karenanya, semestinya bagi kita untuk semakin mantab dan yakin bahwa khilafah sudah tak relevan dan “tidak dipromosikan” oleh syariat. Kita bisa dengan mudah menganggap propaganda agen khilafah layaknya bising remah-remah rongsokan yang sudah selayaknya kita abaikan.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x