Please download to get full document.

View again

of 9

(REVISI) II HASIL RESENSI BUKU

Menggali Interelasi Sosiologi dan Agama
0 views9 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
  HASIL RESENSI BUKU “MENGGALI INTERELASI SOSIOLOGI DAN AGAMA”  AGAMA DAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL DISUSUN OLEH : FITRAH QALBINA SYAHRIL (4618003) SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH IAIN BUKITTINGGI 2019  RESENSI Judul buku : Menggali Interelasi Sosiologi dan Agama  Nama pengarang : Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.SI Penerbit : Humaniora Tahun terbit : 2011 Jumlah halaman : 176 halaman Tempat terbit : Bandung Sinopsis Buku : Buku ini menjelaskan tentang adanya hubungan Sosiologi dan Agama di masyarakat. Buku ini dibuat oleh penulis karena di tengah-tengah fenomena peningkatan jumlah  penduduk dunia yang cenderung memilih untuk tidak beragama dan menjadikan agama itu sebagai formalitas, misi agama perlu dijelaskan dengan rahmatan Lil alamin  sehingga agama tidak dilihat sebagai pendukung kekerasan, konflik, dan sebagainya.  Di dalam buku tersebut, pada bab 4 menjelaskan tentang Agama dan Masyarakat. Ada dua klasifikasi agama yang berkembang dalam sejarah kehidupan manusia. Pertama,  Polytheisme dan  Monotheisme . Dari 2 jenis ini berkembang pula istilah Agama Tradisional dan Modern. Pada awalnya manusia mengenal tuhan melalui asumsi-asumsi dasar yang dia kembangkan terhadap kekuatan yang m elekat pada “tubuh”  benda-benda, dan benda-benda itulah diyakini manusia memiliki kesakralan dan kekuatan gaib. Nalar beragama ini terus  berkembang secara terus menerus seiring berkembangnya akal pikiran manusia.  Nalar agama ini ditunjukkan oleh manusia ketika menghadapi kejadian alam, seperti adanya pohon-pohon besar, rumah kosong atau bangunan lama. Lalu, mereka menyembah “benda” dan meyakini kejadian alam   dibuat oleh “  benda ”  tersebut. Manusia berasumsi dengan melakukan ritual itu manusia akan dilindungi. Agama  Monotheisme  adalah agama yang mengenal keesaan tuhan. Dalam kajian Islam, agama ini dikenal dengan agama samawi /agama langit. Agama samawi ini mempunyai wahyu/kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan, memiliki Nabi dan Rasul juga. Islam sendiri masuk dalam kategori agama samawi. Kehidupan manusia tidak terlepas dari rasa butuh terhadap kekuatan lain yang lebih berkuasa. Manusia butuh aturan yang bersifat Universal   dan  Absolut   mutlak, sehingga manusia tidak merasa frustasi. Dalam proses penyebaran agama, masyarakat menerima minimal tiga bentuk  penilaian terhadap agama. Pertama, agama yang diterima sepenuhnya. Maksudnya, agama menjadi sesuatu yang sangat dominan dalam kehidupan manusia. Karena diterima dengan sepenuh hati, nilai-nilai agama tidak dicampur adukkan dengan tradisi yang ada di daerah setempat atau disebut dengan tradisi local  . Kedua, agama diterima sebagian, maksudnya adalah ada pencampur adukan agama dengan tradisi local   yang selama ini berlaku. Ketiga, agama itu ditolak sama sekali. Maksudnya masyarakat menolak keras dengan datangnya agama dan masyarakat tetap bertahan dengan tradisi local  . Tidak mau diganggu gugat kepercayaan mereka. Seperti di masyarakat Minangkabau terdapat sekelompok orang yang termasuk kelompok kedua. Mereka tetap beradaptasi dengan masuknya agama tersebut. Terbukti dengan mere ka “menyesuaikan” ajaran agama I slam kedalam bahasa-adat. Ada juga kelompok di Minangkabau yang seperti di kelompok ketiga, dimana kelompok ini tidak menerima ajaran agama, bersikap menutup diri. Seperti di Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, disana lengkap tiga jenis sikap masyarakat dalam menerima ajaran agama. Pertama, masyarakat yang menerima Islam secara penuh, dinamakan  Islam waktu lima , kedua,  masyarakat yang menerima sebagian ajaran Islam, disebut  Islam waktu telu , ketiga, masyarakat yang sama sekali tidak menerima ajaran Islam disebut kaum boda . .  Kemudian, pada bab ini membahas tentang identitas. Identitas sendiri berarti ciri khas yang menandakan suatu kelompok. Kekhasan inilah yang disebut dengan keunikan. Menurut Lan (2000), setiap individu memerlukan identitas khusus yang akan memberinya Sense of  Belonging  , dan eksistensi sosial. Menurut Taylor dan Moghaddam (1994), identitas individu yang tampil dalam setiap interaksi sosial itu disebut identitas sosial. Identitas sosial ini menjadi bagian dari kesadaran individu sebagai anggota suatu kelompok sosial. Di dalam kelompok sosial tercakup nilai-nilai dan emosi yang melekat di dalam diri setiap individu sebagai anggotanya. Menurut Hogg dan Abram (1988), di dalam struktur sosial sering kita menemui penggolongan orang menurut ras, agama, pekerjaan, dan sebagainya. Kondisi ini dapat memperkuat interaksi dan hubungan sosial antar kelompok. Karena itu, identitas merupakan Self-Concept  . Giddens (1991) menyebutkan sebagai Self Identify . Seperti di Minangkabau sendiri, setelah Islam datang Islam menjadi identitas yang sangat khas dari etnis ini. Kedalaman ciri khas ini seolah-olah menjadi bukti pendapat mereka bahwa identitas  bisa di rekontruksikan dan faktor rekontruksi itu sendiri ada dalam falsafah  Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah . Identitas ini sangat kental sehingga orang yang non Islam tidak termasuk etnis Minangkabau. Dalam konteks ini, pemahaman dan pemaknaan seperti itu dapat dimengerti dan dipahami karena agama dalam hal Islam berhasil merekontruksi atau membangun identitas etnis Minangkabau sebagai etnis muslim. Itu berarti agama sudah menjadi salah satu konsep atau alat penentu untuk menyatakan keminangakabauan. Beda pula identitas orang barat mengenai identitas yang sudah dipola sedemikian rupa di negara-negara modern yang menganut agama non Islam (tidak semua yang menganut agama non muslim). Sebaliknya, timur dicirikan sebagai negara berkembang dan merupakan negara Islam. Karena itu, dalam konteks ini jelas sekali bahwa agama sudah menjadi salah satu ranah potensial untuk melakukan rekontruksi identitas.  Namun, di dalam jurnal Studi Negoisasi Kultural yang Mendamaikan Antar Etnik dan  Agama di Kota Tanjungpinang   menjelaskan bahwa bentuk multikultural disana terletak pada sebuah tradisi lapau  di Minangkabau.  Lapau  ini sebuah arena untuk laki-laki untuk membangun dunia sosialnya melalui minum kopi atau cemilan. Dan laki-laki itu menghabiskan waktu di tempat itu. Menariknya, kedai kopi di Tanjungpinang ini menjadi  tempat refleksi dan bercerita-cerita ringan bagi laki-laki itu sendiri. Laki-laki itu pun berasal dari beberapa suku, agama, dan ras yang berbeda. Tapi mereka tidak merasakan ada terjadi konflik. Yang membuat mereka bersatu adalah pembahasan yang berbeda-beda disetiap  pertemuan dan mereka bisa saling menghargai dengan adanya perbedaan pandangan tiap orang. Ikatan sosial yang menguat dan mendesain rasa-rasa kemanusiaan yang lebih tinggi. Diantara mereka tidak mudah diprovokasi karena pertimbangan-pertimbangan ikatan sosial yang kuat dan tidak mementingkan kepentingan individu. Lalu, ada juga pembahasan tentang perkawinan antar etnik, dimana perkawinan ini ada perjanjian hidden  yang berkaitan tentang agama. Disini terjadi negoisasi terselubung dikonstruksikan. Negoisasi itu terkait dengan masalah status agama. Jika yang melangsungkan pernikahan berbeda agama, maka secara tersembunyi ada kontrak yang sudah dimengerti dan dipahami. Namun, dengan ada perjanjian hidden  ini tidak menjadi pemicu konflik, tetapi menjadi penjalin silahturahmi yang baik antar sesama. Ada juga di kawasan kampung cina, dalam kehidupan sosial, mereka tidak membangun superioritas budaya, identitas dan sebagainya. Masing-masing hidup dalam kesamaaan identitas, budaya dan simbol-simbol. Pada jurnal ini sudah jelas bahwa masyarakat itu bisa hidup dengan damai dan saling menghargai satu sama lain, baik itu agama, ras, etnik, dan lain-lain. Lalu pada Jurnal  Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah melalui Pendidikan  Multikultural untuk Merawat Nasionalisme di Tengah Keanekaragaman , menjelaskan bahwa  perlunya pendidikan multikultutural karena mengajarkan manusia untuk saling menghargai dan mereka tahu akan beragam suku bangsa yang ada di Indonesia bahkan dunia. Ego mayoritas dan minoritas diberbagai belahan dunia masih saja terjadi ancaman yang mendasar dalam perdamaian dunia. Di Indonesia, pada wilayah-wilayah tertentu misalnya sangat tidak  bisa menerima kehadiran simbol-simbol, dan ini berfungsi untuk meniadakan perbedaan antara suku bangsa dan agama. Ada beberapa hal yang menyebabkkan terjadinya keberagaman itu menjadi ancaman, seperti terjadinya ketidakharmonisan atau konflik disebabkan oleh rendahnya kualitas komunikasi atau tersumbat komunikasi yang menjadi dalam keberagaman tersebut. Sebagai bangsa besar dan keanekaragaman maka pendidikan multikultural sangat penting dibangun di Indonesia. Keterlambatan pelaksanaan pendidikan multikultural di Indonesia, telah terbukti menghilangnya nilai-nilai demokrasi, harmonisasi, dan humanisme, sehingga keanekaragaman tersebut terseret dalam konflik yang sangat meruntuhkan nilai-nilai universal  .
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x