Please download to get full document.

View again

of 14

RUNTUHNYA TEORI PEMBANGUNAN NEGARA DUNIA KETIGA

1.1. Pendahuluan Sejak akhir tahun tujuhpuluhan isu berakhirnya "Dunia ketiga" mulai terdengar. Salah satu indikasinya adalah berkembangnya proses pembangunan pada 125 negara berkembang yang pada awalnya menyandang predikat sebagai negara
0 views14 pages
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Documenttranscript
   RUNTUHNYA TEORI PEMBANGUNAN NEGARA DUNIA KETIGA Sebuah kritik review terhadap buku “Administrasi Negara - Negara Berkembang” (Fred W. Riggs), “Teori Pembangunan Dunia Ketiga”, (DR. Arief Budiman) dan “Dari Kiri ke Kanan” (Kevin P. Clemens) 1.1. Pendahuluan Sejak akhir tahun tujuhpuluhan isu berakhirnya “Dunia ketiga” mulai terdengar. Salah satu indikasinya adalah berkembangnya proses pembangunan pada 125 negara berkembang yang pada awalnya menyandang predikat sebagai   negara “Dunia Ketiga”. Kelompok negara tersebut mempunyai perbedaan tingkat pencapaian dan proses pembangunan, problem dan kepentingan yang semuanya itu mempersulit pembuatan katagorisasi dan konseptualisasi   “Dunia Ketiga”. Demikian pula halnya dalam membentuk keseragaman formulasi kepentingan, mereka mengalami kesulitan. Kesulitan yang dihadapi ketika negara-negara tersebut berada dalam posisi perundingan di kancah konferensi Utara-Selatan maupun dalam organisasi-organisasi Internasional. Heterogenitas dan diferensiasi, ketidak sepakatan dan ketertutupan mulai menjadi kata kunci dalam perlakuan tentang istilah dan perjalanan sejarah “Dunia Ketiga”.   Andreas Boeckh (1993, 111) memperkirakan bahwa berakhirnya “Dunia Ketiga” dapat dilihat dari adanya perbedaan besar dalam dinamika pembangunan “Dunia Ketiga”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa mungkin juga “Dunia Ketiga” tidak pernah ada dalam arti yang sebenarnya. Terutama sekali karena tidak ada kesamaan karakteristik, struktur, prasarat pembangunan dan satu dinamika pembangunan yang dapat menyatukannya. “Dunia Ketiga” dianalisa dengan katagori yang  sama. Fenomena tersebut sering juga dinyatakan sebagai suatu sebab terjadinya krisis teori pembangunan besar. Tulisan ini akan mengambil salah satu diskusi tentang berakhirnya “Dunia Ketiga” dan krisis teori pembangunan. Benarkah “Dunia Ketiga” sudah berakhir?. Penulis mengambil fakta tentang terjadinya perkembangan yang sangat heterogen yang terjadi pada negara-negara yang pada awalnya digolongkan ke dalam “Dunia Ketiga” serta keterkaitannya dengan krisis teori pembangunan. Berkaitan dengan pembahasan tetang krisis teori pembangunan akan menyinggung pula apa penyebabnya. Berbagai penyebab tersebut secara kasar bisa dikatagorikan dalam sederetan proses perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri yang terutama di cari dalam produksi teorinya. Yang lain mecoba melihat pada perubahan yang terjadi di   “Dunia Ketiga” dan pengaruh pada teori pembangunan dan pada permasalahan pembangunan terbaru yang pada saat ini tidak sesuai lagi bila diukur dengan berbagai premis yang ada. 1.2. Heterogenitas dan Diferensiasi Pada awal mulanya, terbentuk secara cepat suatu kelompok negara-negara baru sebagai akibat dekolonisasi. Mereka itu berkumpul di bawah bendera negara “Dunia Ketiga”. Kelompok yang sangat heterogen ini tediri dari berbagai begron atau latar belakang, ada yang negaranya besar, tapi SDA nya rendah, ada yang sebaliknya yakni negaranya kacil tapi Sumber Daya Alamnya besar, ada yang kaya akan kebudayaan dan juga sebaliknya. Secara garis besar bisa dinyatakan terdapat perbedaan struktur ekonomi dan sosial, perbedaan proses pembangunan, administrasi sekaligus cara penanggulangannya. Potensi tersebut secara terpisah ataupun secara bersamaan menyebabkan kelompok dari berbagai negara dari Ketiga Benua (Amerika Latin, negara-negara baru di Afrika dan sebagian besar Asia) cepat berpencar menjadi berbagai kelompok bagian dalam dunia pembangunan dengan suatu tujuan untuk mensejahterakan kehidupan bernegara.  Heterogenitas yang ada tersebut di satu sisi membawa dorongan pertumbuhan dan industrialisasi yang menghantarkan sebagian kecil kelompok negara ke dalam Newly Industrializing Countries (NICs). Kelompok yang bergerak dalam bidang industri tersebut pada akhirnya menggabungkan diri ke dalam negara-negara OECD  yang pendapatan perkapitanya bahkan mengungguli negara-negara Uni Eropa. Suatu keberuntungan alam dan kekuatan posisi tawar - menawar di dapatkan oleh organisasi negara  –  negara OPEC. Dari kelompok ini yang dimaksud adalah negara-negara padang pasir yang miskin penduduk. Setelah melonjaknya harga minyak dari tahun 1974  –  1979  –  1980 mereka menggabungkan diri ke dalam kelompok negara yang tingi GNP-nya Pada posisi yang paling tragis dialami oleh negara-negara yang menurut PBB tergolong dalam negara LLDC (Least Developed Countrises). Meraka tidak lagi berada dalam pembangunan tetapi berada dalam proses kehancuran. Mereka ini semakin terpisah dari proses pertumbuhan dan sistem kehidupan internasonal. Dalam bahasa pembangunan poitik negara LLDC akhirnya sering disebut sebagai kelompok negara Dunia Keempat Dari berbagai kondisi tersebut, perdebatan dan argumentasi tentang berakhirnya “Dunia Ketiga”  diawali. Mungkinkah tetap akan digunakan konsep dan istilah “Dunia Ketiga”  untuk menggambarkan berbagai fenomena yang ada dan sedang berkembang di tengah berubahnya sistem dunia ini. Atau masih mungkinkah pegelompokan tersebut tetap dipertahankan sementara tingkat kepetingannya berbeda dan heterogenitasnya semakin tajam. 1.3. Fenomena Perkembangan Dunia Situasi krisis sangat umum telah terjadi dan bisa disaksikan paling tidak di negara  –  negara “Selatan”. Problem mendasar yang masih tetap aktual dan sebagai kenyataan besar krisis tersebut adalah kemiskinan.  Dalam laporannya, Bank dunia memberikan suatu resume tentang kemiskinan, yaitu sekitar satu milyard manusia hidup dibawah garis batas kemiskinan absolut. Pernyatan tersebut tidak suilt untuk dibuktikan bahwa untuk beberapa negara kehidupan penduduknya lebih jelek dibandingkan saat mereka mulai lepas dari penjajahan sekitar 30-40 tahun lalu. Sehingga ditahun 80-an oleh Bank Dunia pada mulanya dinyatakan sebagai “Dekade Pembangunan Ketiga” dinyatakan sebagai “Dasawarsa yang hilang” ’ karena pada dasawarsa tersebut bagi sebagian negara-negara di dunia ini terkait dengan adanya kemunduran drakmatis pendapatan perkapita. Kehilangan dan kemunduran jauh tersebut bukan hanya dilihat dalam situasi nyata pembangunan namun didapati juga terjadi pada resep pembangunan tahun 70-an. Sebagai suatu fase inovasi politik pembangunan, “Resep” ini t idak berbuah subur atau paling tidak dapat membawa suatu gelombang besar keberhasilan. Sehingga muncul di samping krisis riil juga krisis dalam politik pembangunan dan tentu saja seperangkat teori besar yang mendasarinya. Paradoks besar yang terjadi adalah sebagian dari negara-negara “Selatan”  yang dimaksud di sini adalah negara- negara NIC’s generasi pertama dan kedua di Asia Timur dan Asia Tenggara menunjukkan keberhasilan yang sangat berarti dalam industrialisasi. Pelajaran penting yang bisa diambil dari keberhasilan negara-negara Macan Baru ini adalah bahwa kelompok ini tidak mengandalkan bantuan finansial dan asistensi yang berarti dari negara-negara “Barat”. Seperti yang telah dinyatakan oleh Mezel (1991, 11), keberhasilan mereka terutama karena skenario yang brilian dari birokrasi-neomerkantilisme model Jepang dan bukan karena pengembalihan ekonomi pasar “Barat”  Di kutub lain yang berlawanan muncul negara-negara seperti Tanzania atau India yang mengalami kemunduran. Pada suatu periode tertentu negara-negara ini mempunyai persediaan uang dan pengetahuan yang cukup melimpah atau pada suatu periode panjang mempunyai  pendapatan dari minyak yang tinggi. Saat ini negara-negara tersebut berada pada kondisi hutang yang cukup parah. 1.3. Teori Modernisasi Krisis dan kegagalan teori pembangunan dapat diambil sebagai suatu penjelasan atau argumentasi yang dapat menunjukkan bahwa eksistensi konsep “Dunia Ketiga” telah berakhir. Teori Pembangunan besar ini bertujuan ingin menjelaskan fenomena  –  fenomena proses perkembangan negara-negara di dunia ini. Ada dua aliran besar dalam diskusi kali ini, yang pertama adalah yang berkembang sejak akhir tahun 40  –  an menformulasikan teori pembangunan ekonomi dan teori modernisasi. Aliran ini menelusuri bahwa keterbelakangan dan ketertinggalan negara-negara bekas koloni di sebabkan terutama karena faktor-faktor yang ada dalam mayarakat negara yang bersangkutan, terutama negara-negara sedang berkembang. Pendekatan yang diambil mengikuti pandangan klasik ekonomi nasional dan pandangan dari sudut sosiologis, yang menyebutkan bahwa pandangan tradional, dan struktur masyarakat sebagai hambatan utama dalam perkembangan di bidang politik dan mental serta modernisasi perekonomian. Reformasi melalui satu dorongan perubahan institusional dari luar diharapkan dapat merebah kondisi dalam negri. Teori modernisasi di anggap sebagai suatu sejarah dunia yang terjadi dengan sendirinya dan sebagai proses atau tahapan satu dimensi yang akan dialami oleh setiap negara - negara yang ada di dunia ini. Dalam aliran teori modernisasi ini terdapat dua kontroversi. Pertama kelompok neoklasik percaya bahwa kekuatan pasar dalam arti liberalisme, biaya komparati dan orientasi pembangian kerja internasional. Kedua kelompok aliran Keynesian menggantungkan harapannya akan interversi pemerintah dan pada orientasi dalam negri sebagai satu strategi
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x